Islam, Kiai dan Pusaka

Mohammad Fathi Royyani
Pengagum Pusaka

Islam, Kiai dan Pusaka

Dalam salah satu ceramahnya, Gus Baha (KH Bahuddin Nursalim) menjelaskan mengenai hukum memegang, keris. Menurutnya, masa orang yang memiliki kebenaran (keimanan dalam hatinya) akan terganggu dengan hanya memegang suatu benda. Walaupun dibahas secara sekilas, tetapi hal ini menunjukkan adanya keresahan di masyarakat mengenai hukum keris.

Selain itu, di masyarakat juga masih ada orang yang menyebarkan paham bahwa keris adalah sumber kemusyrikan. Jangankan memiliki, memegang keris pun sudah dianggap menyekutukan Tuhan. Jika keyakinan tersebut untuk diri sendiri sih tidak masalah, tetapi jika sudah menyebarkan pada orang lain baru menuai respon.

Pendapat yang mengatakan bahwa keris adalah sumber kemusyrikan tidak memiliki argumen yang cukup kuat, baik pada dalil maupun argumen lainnya. Secara dalil, tidak ada ayat yang spesifik mengatakan bahwa keris adalah sumber kemusyrikan, kalaupun ada berupa qiyas (analogi, salah satu sumber hukum dalam Islam menurut pendapat aswaja) dari ayat lain mengenai berhala. Meng-qiyaskan berhala dengan keris juga tidak tepat. Ada banyak ketidak sesuaian.

Kalau kita mau sedikit menengok fenomena lain, yang sezaman dengan era Nabi, pun akan dijumpai praktek-praktek para Nabi dan sahabat Nabi yang menghargai senjatanya. Seperti Sayyidina Ali bij Abi Tholib yang memiliki pedang dzulfikar dan merawatnya dengan baik, supaya ketika digunakan dapat berfungsi dengan baik pula. Demikian juga dengan era sebelumnya, Salahuddin Al-Ayyubi juga memiliki senjata berupa pedang yang dirawat.

Nabi Muhammad sendiri memiliki sembilan pedang yang disenangi, yaitu al-Matsur, dzulfikar (yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Tholib), pedang al-Battar (dinamakan demikian karena di pedang tersebut terpahat nama Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Musa, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Isa. Di pedang ini juga ada gambar Nabi Daud saat mengalahkan Jalut), Hatf (pedang hasil rampasan perang dari Bani Qaynuqa),

Pedang Qul’i atau Qul’ay (pedang hasil rampasan perang dari Bani Qaynuqa), pedang al-Qadib (yaitu pedang yang selalu sering dibawa Nabi, pedang ini fungsinya untuk pertahanan dan menemani ketika bepergian walaupun tidak pernah digunakan untuk perang), pedang al-Mikhdam (pedang ini kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan Ali memberikan pedang ini untuk anaknya, Zainal Abidin), pedang al-‘Adhab (pedang ini adalah pemberian dari sahabatnya, Nabi menggunakan pedang ini saat perang Uhud), pedang ar-Rasub (salah satu pedang panjang yang memiliki ukuran 140 cm dan ada buletan emas yang di dalamnya ada tulisan Ja’far As-Shodiq.

Beberapa pusaka yang pernah dimiliki oleh Nabi sebagian masih tersimpan dengan baik di museum Topkapi di Turki.

Pedang dan Keris adalah sama-sama senjata yang bisa digunakan untuk menjaga diri sendiri maupun utuk berperang. Orang-orang Nusantara mengenal beberapa macam senjata dengan fungsinya yang berbeda. Ada yang fungsinya untuk adu tanding, ada yang untuk jarak pendek dan lain sebagainya. Keris termasuk salah satu senjata yang digunakan untuk adu tanding dan menusuk.

Ulama dan Keris

Pendapat yang mensyirikkan keris cukup meresahkan kalangan pelestari budaya. Jika pendapat tersebut dibiarkan, maka lambat-laun orang akan meninggalkan keris dan berdampak tercerabut dari akar budaya. Kekhawatiran mereka pun dipahami oleh para ulama, maka dicontohkanlah oleh para ulama bahwa dengan memegang keris disertai rasa penuh penghargaan.

Diantaranya para ulama yang memegang keris atau pusaka lainnya adalah Habib Lutfi bin Yahya, Kiai Ahmad Zaini (Tuan Guru Sekumpul), Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), Kiai Abdullah Salam, Habib Umar bin Hafidz dan masih banyak lagi. Foto-foto tersebut muncul untuk merespon anggapan sebagian orang bahwa keris adalah benda yang menyebabkan kemusyrikan. Bagi mereka, keris adalah kreasi budaya dari para leluhur yang di dalamnya ada filosofi, estetika, sejarah, dan nilai-nilai lainnya. Keris adalah bagian dari identitas orang yang melekat dalam diri, sama dengan aksesoris lainnya.

Sejatinya, jika kita memperluas cakrawala berpikir, baik dalam memahami teks agama maupun melihat praktek-praktek yang dilakukan oleh para terdahulu, akan dijumpai bahwa membawa pusaka adalah persoalan biasa. Para Nabi, Sahabat, samapi dengan ulama memiliki benda yang menjadi pegangan, baik untuk berperang maupun tujuan lainnya. Pegangan tersebut disebut dengan pusaka dalam bahasa kita.

Mengetahui bahwa Nabi dan sahabat serta para ulama salaf memiliki “ageman” atau “gaman” untuk menjaga diri mereka ketika ada serangan, entah dari orang yang berniat jahat maupun dari ancaman binatang buas, maka para ulama Nusantara pun mengikuti jejak mereka. Hanya, ketika di Nusantara, senjata masyarakat sini ada keris, badik, kerambit, parang salawuku, dan lain sebagainya, maka para ulama pun menyesuaikan dengan situasi stempat.

Para Kiai dan Pusakanya

Ulama-ulama Jawa dari Walisongo sampai dengan sekarang memiliki keris. Pangeran Diponegoro dalam banyak kesempatan membawa keris, demikian juga ulama lain. Saya pun memiliki banyak cerita dari anak turunan ulama/Kiai yang menceritakan bahwa kakek-buyutnya memiliki keris yang disimpan di kamar pribadi dan ada juga yang dibawa.

Diantara Kiai yang ada di daerah Bogor adalah Mama Falak (1842-1972). Menurut penuturan cicitnya, Gus Achmad Ubaidillah, saat dijumpai pada hari kamis 22 September 2022 di rumah pusaka Mama Falak, mengatakan bahwa Mama Falak juga memiiliki beberapa pusaka keris. Ada yang rutin dibawa dan ada juga yang disimpan. Keris yang dimilikinya pun beragam. Ada yang berukuran kecil seukuran jari, ada yang sedang dan agak besar. Namun sayangnya, beberapa pusaka tersebut tidak diketahui keberadaannya, walau ada juga yang masih disimpan di keluarga.

Mama Falak merupakan ulama kharismatik yang berusia panjang. Beliau lahir tahun 1842 dan meninggal tahun 1970an. Semasa hidupnya, rumahnya tidak pernah sepi dari kunjungan para ulama maupun pejabat, dan yang paling sering tentu saja masyarakat kecil yang tinggal di sekitarnya.

Sebagaimana layaknya Kiai, beliaupun membangun pesantren. Bermula dari memanfaatkan bagian rumahnya, kemudian membangun di lahan dekat rumah, sampai meluas. Sampai sekarang, pesantren yang didirikan di Bogor masih menjadi kiblat dalam menuntut ilmu. Ribuan santri dari berbagai pelosok negeri datang untuk belajar.

Selain kharismatik, Mama Falak juga dikenal dengan ke-alim-an-yakni penguasaan pada literature agama dan mampu menarik kesimpulan dari banyak sumber-serta memiliki beberapa karomah. Presiden Soekarno jika sedang menginap di istana Bogor, dapat dipastikan akan berkunjung ke rumah beliau. Kunjungan dilakukan baik dengan upacara maupun di tengah malam.

Demikian juga dengan Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Pesantren. Berdasarkan penuturan cucunya, beliau meiliki dua pusaka yang digunakan ketika memimpin perjuangan pada 10 November 1945 di Surabaya. Pusaka yang berbentuk mata tombak dan tongkat tersebut masih tersimpan dengan baik di kediaman Kiai Abbas dan dirawat oleh salah seorang cucunya. Pusaka tersebut menjadi saksi sejarah atas kiprah Kiai Abbas dalam perjuangan kemerdekaan.

Demikian juga dengan Kiai Mahrus Aly, dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur, saat penulis mengunjungi Gus An’im (salah satu puteranya), penulis ditunjukkan pedang, yang menurut penuturan Gus An’im pedang tersebut milik Kiai Mahrus Aly. Senjata tersebut diperoleh saat pelucutan senjata tentara Jepang. Pedang tersebut digunakan oleh Kiai Mahrus Aly saat berjuang membela Indonesia pada saat 10 November 1945 dan juga perjuangan lainnya untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dengan banyaknya ulama dan kiai yang memegang pusaka, hal tersebut menunjukkan bahwa memiliki pusaka bukanlah tindakan yang dilarang oleh agama.

Kabar Sekolah Lainnya